Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang

Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang - Banyaknya perilaku menyimpang dalam masyarakat mendorong para ahli mengklasifikasikan bentuk-bentuk perilaku menyimpang tersebut.

Akhirnya, didapat tiga bentuk pembedaan perilaku menyimpang yaitu apabila dilihat dari tujuannya, ditinjau dari sifatnya, dan dikaji dari jumlah pelakunya.


1. Berdasarkan Tujuan

Setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang mempunyai tujuan tertentu. Demikian juga dengan perilaku menyimpang.

Oleh karena itu, berdasarkan tujuannya, perilaku menyimpang dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu penyimpangan sosial positif dan penyimpangan sosial negatif.

a. Penyimpangan Sosial Positif

Tindakan penyimpangan sosial merupakan tindakan manusia di luar kelaziman, bahkan mengarah pada nilai-nilai sosial yang dipandang rendah oleh masyarakat.

Namun demikian, tidak selamanya penyimpangan sosial bertujuan negatif yang merugikan orang lain.

Perilaku di luar kelaziman dapat pula berdampak positif bagi masyarakat seperti yang dilakukan oleh I Wayan Mandra, lelaki kelahiran Bali.

Tindakan menyimpang yang dia lakukan didorong keadaan desa kelahirannya mengalami paceklik di mana penduduk mengalami kesulitan air bersih.

Hamparan sawah yang sebelumnya subur berubah tandus. Masyarakat terpaksa makan umbi-umbian.

Tidak seperti umumnya masyarakat desa yang cenderung pasrah pada nasib, I Wayan Mandra melontarkan ide membangun tanggul tidak jauh dari desa tempat dia berada.

Ia mengajak 150 warga masyarakat. Namun, tanggul yang baru saja mereka bangun jebol dan tidak bisa mengalirkan air.

Kegagalan itu membuat penduduk putus asa. Tidak demikian halnya dengan I Wayan Mandra.

Berbekal sepucuk senapan angin ia mulai merencanakan membangun terowongan air sejauh 9 kilometer yang dipergunakan untuk mengairi sawah penduduk.

Penduduk desa mencemooh dan mengatakan ide I Wayan Mandra adalah suatu kegilaan.

Akhirnya, air yang diharapkan akan mengubah tatanan kehidupan masyarakat menjadi lebih sejahtera mulai mengalir.

Awalnya air tersebut dipergunakan untuk kebutuhan minum warga, karena jumlahnya berlebihan kemudian air tersebut dialirkan ke ladang dan persawahan.

Penyimpangan sosial mampu berdampak positif dan memberikan keuntungan bagi penghidupan masyarakat.

Selama penyimpangan itu selaras dengan nilai-nilai sosial yang diidealkan masyarakat, maka hal itu disebut penyimpangan sosial positif.

b. Penyimpangan Sosial Negatif

Berbeda dengan penyimpangan sosial positif, penyimpangan sosial negatif merupakan perilaku menyimpang yang mengarah pada nilai-nilai yang dipandang rendah.

Pendapat ini dikemuka- kan oleh Hendropuspito dalam buku Sosiologi Sistematik.

Orang atau kelompok yang berbuat menyimpang pada umumnya mempunyai kedudukan rendah dalam masyarakat.

Mereka tidak mendapat tempat yang terhormat. Mereka dijauhi dan dikucilkan dari pergaulan.

Kejahatan, korupsi, pembunuhan, tawuran, serta hubungan seks bebas merupakan wujud penyimpangan sosial negatif.


2. Berdasarkan Sifat

Penyimpangan sosial dapat pula dipilah berdasarkan sifatnya yaitu penyimpangan primer dan sekunder.

Kedua penyimpangan tersebut saling terkait satu sama lain menghasilkan hubungan sebab akibat. Timbulnya penyimpangan sekunder didahului adanya penyimpangan primer.

Seorang anak yang lupa mengerjakan PR karena ingin menghindari hukuman dari guru, anak tersebut diam-diam meninggalkan sekolah, merupakan contoh penyimpangan primer.

Namun, menjadi berbeda apabila perilaku membolos dijadikan sebagai kebiasaan anak tersebut. Walaupun si anak telah mengerjakan tugas yang diberikan guru.

Lantas, apa yang dimaksud dengan penyimpangan primer dan sekunder? Penyimpangan primer (primary deviation) yaitu penyimpangan yang dilakukan seseorang yang bersifat temporer dan tidak berulang-ulang.

Tindakan siswa di atas menjadi penyimpangan sosial primer jika siswa tersebut tidak akan membolos, apabila telah mengerjakan PR.

Tindakan yang dilakukan oleh siswa tersebut di luar perencanaannya sehingga bisa disebut penyimpangan primer. 

Pelaku penyimpangan primer masih dapat diterima secara sosial karena hidupnya tidak didominasi oleh pola perilaku tersebut.

Sedangkan penyimpangan sekunder terjadi, jika siswa tersebut mengulangi perilaku menyimpang yang pernah dilakukan.

Keberhasilan dalam melakukan perilaku menyimpang mendorong seseorang melakukan perilaku yang sama. Seperti pada kasus siswa yang membolos ketika pelajaran sekolah.

Tindakan membolos sering dilakukannya ketika ia merasa malas dan bosan. Pengulangan perilaku menyimpang ini memunculkan  penyimpangan  sekunder  (secondary  deviation).

Kartini Kartono (1983) dalam bukunya Patologi Sosial mengemuka-kan urutan terjadinya penyimpangan sekunder, yaitu:

a. Dimulai dengan penyimpangan primer.

b. Muncul reaksi-reaksi sosial, hukuman, dan sanksi-sanksi.

c. Pengembangan dari penyimpangan-penyimpangan primer.

d. Reaksi sosial dan penolakan yang lebih ketat dari masyarakat.

e. Pengembangan deviasi lebih lanjut disertai pengorganisasian yang lebih rapi, timbul sikap permusuhan, serta dendam penuh kebencian terhadap masyarakat yang menghukum mereka.

f. Kesabaran masyarakat sudah sampai pada batas akhir, dibarengi penghukuman, tindakan-tindakan keras, dan mengecam tindakan penyimpangan itu sebagai noda masyarakat atau sebagai stigma sosial.

g. Timbul reaksi kedongkolan dan kebencian di pihak penyimpang, disertai intensifikasi tingkah laku yang sosiopatik sehingga berkembang menjadi deviasi sekunder. Hilanglah kontrol-kontrol rasional dan dirinya menjadi budak dari nafsu-nafsu serta kebiasaan-kebiasaan yang abnormal.

h. Masyarakat menerima tingkah laku abnormal itu dan melekatkannya sebagai status sosial terhadap si pelaku penyimpangan.


3. Berdasarkan Jumlah Pelaku

Apabila dilihat dari jumlah pelakunya, perilaku menyimpang dapat dibedakan menjadi penyimpangan individual dan kelompok. Lantas, bagaimana pengertian penyimpangan individual dan kelompok?

a. Penyimpangan Individual (Individual Deviation)

Penyimpangan individual merupakan penyimpangan yang dilakukan hanya oleh satu orang.

Tidak ada orang lain yang ikut melakukan tindakan tidak sesuai dengan nilai dan norma masyarakat.

Munculnya penyimpangan individual disebabkan kelainan jiwa seseorang atau karena perilaku jahat.

Misalnya, pecandu narkoba, melakukan tindak kejahatan, menjadi seorang pelacur, sikap arogansi kesombongan, bertindik, bertato, korupsi, dan lain-lain.

b. Penyimpangan Kolektif (Group Deviation)

Penyimpangan kolektif yaitu penyimpangan yang dilakukan oleh sekelompok warga masyarakat secara bersama-sama.

Terjadinya penyimpangan kelompok disebabkan mereka patuh pada norma kelompoknya yang kuat dan biasanya bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku.

Hal ini biasanya dipengaruhi oleh pergaulan. Misalnya, karena ingin membuktikan keberanian dalam melakukan hal-hal yang dianggap bergengsi, sekelompok orang melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang seperti kebut-kebutan, membentuk geng-geng, membuat onar atau tawuran pelajar yang biasanya terjadi karena rasa solidaritas kelompok.

Demikianlah uraian materi ips sosiologi tentang Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang - ada tiga bentuk pembedaan perilaku menyimpang berdasarkan tujuannya, sifatnya, dan berdasarkan jumlah pelakunya. Semoga dapat dipahami dan jangan lupa untuk berbagi agar materi ini lebih bermanfaat. Terima kasih.
MATERI KELAS 7 (BUKA DISINI) - KELAS 8 (BUKA DISINI) - KELAS 9 (BUKA DISINI) - KELAS 10 (BUKA DISINI) - KELAS 11 (BUKA DISINI) - KELAS 12 (BUKA DISINI)
Ramai pengunjung telah membagikan ini,ayo ikutan berbagi. Kllk salah satu icon share dibawah...
Sedang Dibaca...